| — | Fudhail bin ‘Iyadh (via achmadlutfi) |
Hidup tidak cuma tentang akademik bagi seorang siswa yang hendak ikut ujian masuk universitas sekalipun. Apa hari-hari tanpa kepastian dalam akademik seperti ini membuatku boleh berjuang dengan tak pasti juga tiap harinya? Yang semesetinya dengan optimisme dan harapan yang tinggi, dengan niat penuh, dan bersungguh-sungguh seperti besok akan mati..
Apa aku, bila berakhir sampai hari ini kesempatanku, bila kelak ditanyai Allah tentang hidup yang telah diberikan-Nya… bisa menyimpulkannya dengan baik?
Mengapa… ketika tak ada kekuatan pemaksa seperti rasa cinta atau rindu yang dalam atau bahkan rasa bersalah dan tertekan… sulit sekali bagiku untuk melakukan hijrah; mereaksi semua energi yang ada untuk berbuat kebaikan untuk umat, membakar segala emosi negatif lalu menyapu abunya dari pinggir pantai hati…?
Mengapa masih belum sepenuhnya sadar untuk berubah lebih baik setiap harinya?
Padahal yang aku tahu, disitulah letak kesabaran.
Bukan penantian tanpa daya melawan kegalauan. Bukan keinginan agar waktu cepat sajalah berlalu. Bukan pula sibuk dengan angan-angan tentang kehidupan setelah nanti ketentuan itu datang..
Aku di sini. Merasakan Dia yang selalu mengawasiku memberikan sekali lagi sorot mentari dari ufuk timur hingga nanti di barat diganti-Nya dengan kepekatan malam. Allah, Dia menanti untuk bertemu denganku. Rasulullah juga, selalu menanti untuk menyapaku dengan riang…
Sekali lagi, apa aku tidak akan 100% menyesal ketika ada hari dimana aku tidak mempersembahkan yang terbaik dariku untuk Allah, Rasul-Nya, serta saudara-saudaraku? Apakah aku selama ini, hari ini… sudah hidup dengan benar; dengan luar biasa?
| — | Salim A. Fillah |
| — |
Salim A. Fillah
|
| — | Salim A. Fillah |
| — | Salim A. Fillah |
*“Asyahaduallaa ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah
Tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad utusan Allah
Alhamdulillah, pujian bagi Allah
Subhanallah, Mahasuci Allah
Allahuakbar, Allah Mahabesar
Segala puji hanya bagi Allah”
Di tengan gurun padang pasir
Berjumpa seorang pengembala
Menyahut salam senyum terukir
Inilah yang dilafadzkannya *
Di sebuah pekan di Eropa
Bermesra dengan seorang pemandu
Sangat peramah tetapi malu
Inilah yang dilafadzkannya *
Di sebuah kepulauan Afrika
Bertemu dengan si pembuat roti
Walaupun sibuk kerja sehari
Tak kering lidahnya memuji *
Di pegunungan negeri China
Menziarahi seorang petani
Wajahnya tenang nampak berseri
Dengarlah dzikir hatinya *
Lihatlah ramai umat manusia
Walau dimana melafadzkannya
Hati terasa kebesaran-Nya
Ucapkanlah Allahuakbar *
Seru sekali keliling dunia bertemu saudara-saudara seperti mereka! Aamiin
| — | Salim A. Fillah |
| — | Ibnu Qayyim |
Banyak hal indah yang tersembunyi, iya kan?
Ide, gagasan.
Aurat wanita.
Hati.
Hikmah.
Ataukah… banyak hal di dunia ini indah karena tersembunyi?
Bagaikan mesin pencetak otomatis, otak kita selalu melahirkan pemikiran-pemikiran yang tak jarang berbeda dengan orang lain. Bahan bakunya bisa pengalaman, perenungan, imajinasi, dan bahkan rasa. Sering, pemikiran atau gagasan itu menjadi solusi yang menyelamatkan lagi membahagiakan, bagaikan minuman segar bagi pemiliknya. Lalu menjadi seperti aliran darahnya sendiri, ketika menjadi prinsip dalam menjalani hidup. Nah, bagi para pendengar nurani yang selalu ingin berbagi, gagasan yang melimpah ruah di kepala itu rasanya akan sayang jika tidak dibagikan ke orang lain, ke cangkir-cangkir lain, dengan harapan bisa bermanfaat untuknya.
Walau pada kenyataannya, tidak semua menginginkan. Atau jika ingin, sebenarnya tak perlu. Bukan karena cangkir-cangkir mereka penuh. Tapi lebih karena tiap orang punya dunia dengan seri petualangannya masing-masing. Ya.. Kadang, terlintas dalam pikiran kita untuk membiarkan mereka mencari nilai-nilai mereka sendiri.
Kita? Tak perlu khawatir. Bukankah ‘hikmah’ adalah harta seorang muslim yang hilang? Maka siapa yang mendapatkannya, dialah yang paling berhak atasnya. Dialah yang menyimpan. Dan insyaAllah akan ada waktu yang tepat. Lebih tepat. Seperti saat nanti ada yang bertanya, atau saat memiliki tanggungan anak didik; mentee/mutarabbi (#eh), siswa, atau pastinya, anak sendiri.
Bukankah dibalik akhlak seorang anak, ada akhlak dan tarbiyah orangtuanya?
Maka jangan pernah merasa takut apalagi kecewa saat potensi kepala kita, untuk saat ini, belum bisa tersalurkan. It’s like you posses a diamond inside, and would only give it to the right lucky person <3
Mungkin, yang penting diniatkan dari sekarang. Supaya jika ternyata tak diizinkan datang masa itu….Allah sudah mencatatnya.
Begitupula hati, ehm, beserta isinya yaitu potensi mencintai. Pernah dengar tidak tentang orang yang saking baiknya, merasa rugi jika tak bisa mencurahkannya..? Yang bahaya, ketika tak mengerti hakikat cinta yang tinggi, ia lalu tak terpuaskan dengan ‘hanya’ mencintai orangtua, keluarga, saudara-saudara seimannya (padahal ya, sejatinya itu saja sudah ‘berat’). Harus ada yang diberikan khusus. Itu benar sih, apalagi wanita yang memang fitrahnya bisa mencintai dengan segenap jiwa raga terhadap seseorang. Tapi… lagi-lagi, akan ada waktu yang tepat. Yang mungkin sekarang Allah sajalah yang tahu.
Kau tak akan rugi, hei, kau akan dapatkan kesempatan itu, insyaAllah.
Itulah yang lama dinanti dari peti harta karunmu yang tertutup rapat. Menjadi karunia terindah baginya sebelum surga dan ridha Allah kelak.
Nah, jika sekarang rasanya sudah ingin cepat-cepat mereguknya, itu lebih wajar lagi. Tapi reguklah cinta-Nya. Luruskan aqidahmu, kenali Allah dan Rasulullah dengan ilmu, lalu sucikan hatimu, senantiasa. Itu sudah lebih dari indah (kok). Kemudian kau (mungkin) akan terkejut. Karena jika sudah tiba masanya nanti… itu akan menjadikan cintamu seagung-agungnya. Indah tak terkata. Bukan karena ada yang membalas. Tapi karena mencintainya akan membuatmu tahu lebih dalam tentang betapa agungnya cinta dari Allah Yang Mahamulia, Maha pemberi karunia. Itu juga makna yang terbersit dari “separuh agama”.
Sedangkan tentang aurat… Itu fitrah bahwa kita memiliki syahwat. Jadi bersamaan dengan itu, kita bisa memberinya dengan halal sehingga kita akhirnya menjadi orang yang ‘seimbang’. (tentang ini, bukan saatnya untuk dibahas lebih lanjut sekarang, disamping bukan keahlianku :p).
Hikmah dibalik suatu ujian tak perlu dipersoalkan lagi. Itu rahmat Allah untuk kita. Walau kadang di awal, mengintip pun kita tak bisa.
Dari kecil, aku sudah diajarkan bahwa tak ada yang sia-sia. “Kau tahu? Dibalik semua yang kau alami, Allah sudah menyiapkan suatu kalimat nan indah yang kelak akan kau pahami. Untuk itu, jalanilah hari-hari dalam hidupmu ini dengan baik ya!”
Ya, Allah selalu punya sesuatu untukmu. Sesuatu untukmu.
Dan bukankah tak ada yang lebih benar janjinya selain Allah?
Lembah, gurun, telaga, mata air, hingga galaksi diluar bimasakti juga masih banyak yang tersembunyi tak terjamah.
Perjalanan, perjuangan, banyak yang sengaja atau tidak, tak dipertontonkan demi mempersembahkan yang terbaik untuk sang terkasih. Menjadi kisah yang hanya tertulis di kitab amal dua malaikat.
Begitulah.
Tersembunyi… Dalam sunyi.. Tak akan pernah membuatnya hampa.
“Salamun ‘alaikum. Selamat atas kesabaranmu.” (Malaikatullah, di jannah, suatu hari nanti. Aamiin)